Bukan Saman, Tari Daerah Indonesia yang Satu ini Bernama Ratoh Jaroe

Bukan Saman, Tari Daerah Indonesia yang Satu ini Bernama Ratoh Jaroe

Tari daerah Indonesia tak terhitung jumlahnya, mulai dari tari selamat datang, tari hiburan, hingga tari untuk upacara adat. Bila kita menengok ke daerah Aceh, pasti tarian yang pertama terlintas adalah Tari Saman. Padahal, Aceh memiliki banyak tarian menarik salah satunya bernama Tari Ratoh Jaroe.

Merasa pernah dengar? Ya! Tari Ratoh Jaroe menarik perhatian berbagai kalangan, atau orang sejak ditampilkannya pada saat pembukaan Asian Games 2018 yang lalu. Ketika melihatnya pertama kali, banyak orang mengira bahwa tarian ini adalah Tari Saman lho. Padahal Tari Ratoh Jaroe memiliki berbagai perbedaan dengan Tari Saman itu sendiri.

Tari Ratoh Jaroe dikreasikan dari gerakan-gerakan tari tradisional lain yang juga dari Aceh, seperti tarian Ratep Meuseukat, Likok Pulo, Ratoh Duk, Ratoh Dong, Rapai Geleng, dan sebagainya.

Tari ini dibuat oleh seorang seniman asal Aceh yang berkarie di Jakarta. Ada yang mengatakan bahwa tari ini dibuat tahun 2008, 4 tahun paska bencana tsunami untuk mengembalikan semangat masyarakat Aceh.

Gerakan Tari Ratoh Jaroe lebih menonjolkan gerakan tangan disbanding anggota badan. Gerakan tari ini terdiri dari membungkuk, duduk, lalu berlutut, dan menepuk dada serta berbagai macam gerakan tangan yang lainnya.

Terlihat mudah, tapi tari ini sangat membutuhkan kekompakan karena setiap penari menarikan gerakan yang sama sehingga apabila satu salah, maka bisa berakibat semua salah dan tarian gagal.

Tari ini memiliki perbedaan mendasar dengan Tari Saman. Perlu kamu ingat bahwa Tari Saman dilakukan oleh laki-laki dengan jumlah penari ganjil. Sedangkan Tari Ratoh Jaroe ditarikan oleh perempuan dengan jumlah penarinya genap. Disini saja sudah benar-benar berbeda, bukan?

Selain itu, masih ada beberapa hal yang membedakan tari ini dengan Tari Saman. Dalam Tari Ratoh Jaroe, terdapat seorang Syalhi yaitu penyanyi syair yang bertugas mengendalikan pertunjukkan. Syalhi duduk di luar formasi dan tidak bersama dengan penari.

Pada Tari Saman juga terdapat pengendali pertunjukkan. Bedanya, ia dinamakan Penangkat dan duduk paling tengah diantara formasi penari.

Soal iringan, tari ini diiringi syair-syair berbahasa Aceh yang terkadang juga diiringi dengan dentuman musik yang dinamakan Rapa’i. Tari Saman juga menggunakan iringan syair, hanya saja liriknya berbahasa Gayo dan tidak diiringi oleh musik apapun.

Pakaian yang dikenakan untuk kedua tarian ini tentunya juga berbeda. Penari Ratoh Jaroe menggunakan pakaian lengan panjang polos dipadu dengan kain songket Aceh dan ditambah dengan ikat kepala untuk mempercantik. Pakaian para penari Saman mengenakan pakaian adat Gayo yang dinamakan Baju Kantong lengkap dengan motif Kerawang.

Tari Ratoh Jaroe menjadi perbincangan masyarakat sejak ditampilkan pada pembukaan Asian Games 2018 Agustus lalu. Bagaimana tidak, tari ini dilakukan oleh 1600 penari yang berasal dari 18 SMA se-Jakarta itu sukses dan kompak menarikan Ratoh Jaroe bahkan dengan berganti kostum hingga enam kali.

Pemilihan tari Ratoh Jaroe sebagai klimaks pembukaan Asian Games 2018 bukanlah tanpa alasan. Tari ini dipilih sebagai simbol selamat datang dan untuk menunjukkan keramahan Indonesia pada negara lain.

Persembahan tari ini semakin menegaskan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya akan kesenian dan budaya tidak hanya di mata negara-negara Asia, tetapi juga di seluruh dunia. Jadi dengan adanya tarian ini diharapkan agar anak cucu kita selalu menghormati para leluhur dan juga bisa mewariskannya kembali kepada generasi yang akan mendatang.

admin

shares